Dreams are renewable. No matter what our age or condition, there are still untapped possibilities within us and new beauty waiting to be born.

-Dale Turner-

Jumat, 18 Mei 2012

Apakah pencipta juga memiliki pencipta?


Galibnya, dalam pembahasan ma’rifatullah, soal seperti ini dilontarkan oleh orang-orang yang baru menelusuri padang luas ini. Mereka akan bertanya, “Jika Anda mengatakan bahwa segala sesuatu memiliki pencipta, kini katakan kepada kami siapakah pencipta Tuhan itu?”

Anehnya, acapkali soal seperti ini terurai pada sebagian ucapan-ucapan filsuf Barat yang menandakan hingga batas mana mereka berbuat dan berstatus Awal dalam pembahasan filsafat .

Bertrand Russel, salah seorang filsuf ternama Inggris dalam bukunya “Why I am Not a Christian?” (Mengapa Aku Bukan Seorang Kristen?) berkata, “Aku beriman kepada Tuhan ketika aku berusia muda. Aku meyakininya melaui argumen kausalitas yang terbaik. Dan Aku melihat segala sesuatu yang ada di muka bumi ini memiliki sebab. Apabila mata-rantai sebab itu kita kaji, pada akhirnya kita akan sampai kepada sebab awal dan aku menamai sebab awal ini sebagai Tuhan. Akan tetapi setelah itu, aku meninggalkan kepercayaan ini. Lantaran aku berpikir; apabila segala sesuatu harus memiliki sebab dan pencipta, maka Tuhan juga harus memiliki sebab dan pencipta!”

Namun, kita tidak berpikir bahwa seseorang yang paling tidak mengenal masalah-masalah filsafat yang berhubungan dengan pembahasan ma’rifatullah dan dunia metafisika, akan bungkam dalam menjawab pertanyaan ini.

Pembahasan ini sanga dah jelas. Ketika kita berkata bahwa segala sesuatu memiliki pencipta, maksudnya adalah setiap sesuatu yang terjadi (hadits) dan mumkin al-wujud. Dengan demikian, kaidah universal ini hanya berlaku pada sesuatu yang sebelumnya tidak ada dan kemudian ada, bukan pada wajib al-wujud yang bersifat azali (tidak bermula) dan abadi (tidak berakhir). Satu wujud azali dan abadi tidak memerlukan pencipta sehingga kita bertanya­tanya; siapakah pencipta Sang Pencipta? Dia berdiri sendiri (qa’im) atas Dzat-Nya sendiri. Dia tidak pemah tiada sebelumnya sehingga memerlukan sebab untuk diwujudkan.

Dengan kata lain, wujud Tuhan berasal dari wujud-Nya sendiri, bukan berasal dari luar Dzat-Nya.’ Dia tidak diciptakan sehingga ada pencipta-Nya. Ini dari satu perspektif.

Dari perspektif lain, sebaiknya Tuan Russel dan orang­-orang yang sepaham dengannya mengajukan soal ini kepada diri mereka sendiri, yakni, dalam ungkapan “apabila Tuhan memiliki pencipta…”, kata pencipta akan terulang. Apabila kita bertanya bahwa pencipta-nya pencipta itu siapa, niscaya akan berlanjut begitu seterusnya; dimana setiap pencipta memerlukan penciptanya entah sampai kapan. Inilah tasalsul (vicious regress) yang tak berujung, dan ketidakabsahan tasalsul ini sangatlah jelas.

Dan apabila kita sampai pada wujud yang keberadaanya berasal dari diri-Nya sendiri (mandiri) dan tidak memerlukan pencipta (baca: wajib al-wujud), Dialah Tuhan Sang Pencipta seluruh semesta raya ini.

pembahasan ini juga dapat diterangkan dengan pendekatan lain. Ketika kita bukan seorang mukmin dan sepaham dengan apa yang diyakini oleh kaum materialis, kita tetap harus menjawab soal ini. Dengan menerima hukum sebab-akibat, segala sesuatu di alam ini adalah akibat dari sebab yang lain. Sementara soal serupa yang kita ajukan kepada orang-orang mukmin, juga kita ajukan kepada seorang materialis; bahwa sekiranya segala akibat adalah materi, lalu apa yang menjadi sebab wujudnya materi?

Mereka juga tidak memiliki altematif lain dalam menjawab soal ini. Mereka akan berkata, “Materi azali yang senantiasa ada dan akan tetap ada. Materi azali ini tidak memerlukan sebab. Dengan ungkapan lain, ia adalah wajib al-wujud.”

Atas dasar ini, kita melihat seluruh filsuf dunia, baik Ilahi atau materialis meyakini satu wujud azali. Suatu wujud yang tidak memerlukan pencipta dan senantiasa ada. Perbedaannya adalah kaum materialis beranggapan bahwa sebab awal ini hampa ilmu, pengetahuan, akal dan nalar. Dan mereka percaya, sebab awal ini memiliki jasad, terikat di dalam ruang dan waktu. Akan tetapi, bagi para fisuf Ilahi, Sebab Awal ini memiliki ilmu, kehendak dan tujuan. Mereka tidak percaya bahwa Sebab Awal ini memiliki jasad, dan terikat di dalam ruang dan waktu. Ia berada di atas ruang dan waktu.

Oleh karena itu, berlawanan dengan anggapan Tuan Russel yang berpandangan bahwa sekiranya ia mengucapkan selamat tinggal kepada orang-orang mukmin dan berada di barisan kaum materialis dan kabur dari cengkaraman soal ini, pertanyaan itu tidak akan membiarkannya lolos. Karena, kaum materialis juga percaya kepada hukum sebab-akibat dan berkata bahwa setiap peristiwa memiliki sebab.

Dengan demikian, solusi untuk memecahkan masalah ini adalah kita harus memahami dengan baik perbedaan antara wujud hadits dan azali, mumkin al-wujud dan wajib al-wujud, sehingga kita mengetahui bahwa yang memerlukan pencipta adalah wujud­-wujud yang hadits (yang terjadi) dan mungkin. Maksudnya ialah bahwa setiap yang tercipta, memerlukan pencipta. Namun, yang tidak tercipta, tidak akan memiliki pencipta.

Optimisme !



Salah satu cara agar kita selalu terhindar dari gangguan dan tekanan jiwa, kita harus selalu menyikapi segala hal dengan bijak dan berpandangan positif. Tidak hanya para psikolog saja yang menekankan masalah ini, Al Qur’an pun juga demikian. Agar kita dapat berpandangan positif, kita harus menjalankan dua langkah penting berikut: berpandangan luas terhadap kondisi yang ada, dan berbaik sangka kepada Allah.



A. Berpandangan luas terhadap kondisi yang ada

Kebanyakan dari tekanan-tekanan jiwa diakibatkan oleh faktor-faktor seperti penyesalan akan masa lalu, kehilangan kesempatan, mengalami kekalahan, ketertinggalan, takut akan masa depan, dan lain sebagainya. Para Imam maksum mengajarkan kita untuk merenung dan berfikir secara positif terhadap keadaan yang ada. Namun renungan dan fikiran ini haruslah bersifat melebar dan luas tanpa melupakan hakikat-hakikat maknawiyah. Dalam dua ayat, Al Qur’an melarang manusia untuk berpandangan sempit dalam menilai permasalahan serta mengingatkan akan adanya hal-hal ghaib di balik panggung materi ini. Dalam ayat 22 dan 23 surah Al Hadid kita membaca:

“Tidak ada satupun bencana yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada diri kalian sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauh Mahduz) sebelum kami menciptakannya. Sesungguhnya yang sedemikian itu mudah bagi Allah. (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kalian jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kalian dan supaya kalian, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak suka orang yang sombong lagi berbangga diri.”[1]

Al Qur’an menekankan kita agar tidak berpandangan sempit dalam menilai permasalahan. Disebutkan dalam kitab suci tersebut:

“Dan mungkin saja kalian membenci sesuatu yang padahal itu baik bagi kalian dan mungkin saja kalian menyukai sesuatu yang padahal itu buruk bagi kalian.”[2]

Dalam fiqih Islam terdapat sebuah kaidah yang dikenal dengan kaidah maisur yang artinya adalah “memandang keadaan yang ada”. Berdasarkan kaidah ini, manusia seharusnya memahami dan menjalankan tugas-tugasnya dan menjauh dari kegelisahan dan ketidak tenangan. Rasulullah saw bersabda:

“Jika aku memerintahkan sesuatu kepada kalian, maka lakukanlah; dan jika aku melarang kalian, maka tinggalkanlah.”

Imam Ali as. juga berkata:

“Suatu kewajiban tidak akan gugur hanya karena susah dikerjakan (meski susah, kita harus berusaha mengerjakannya, karena itu adalah kewajiban kita; tak masalah apapun hasilnya).”[3]

Riwayat-riwayat di atas menunjukkan bahwa ketika manusia menghadapi permasalahan dalam hidupnya, ia harus berusaha sekuat tenaga untuk menyelesaikannya, dan hendaknya ia mengurangi kegelisahannya dengan cara penyesuaian diri dengan kondisi yang ada. Pada hakikatnya pesan asli riwayat-riwayat di atas adalah fleksibilitas manusia dalam menjalani kehidupannya; karena jika demikian, manusia akan terhindar dari tekanan-tekanan psikis dan stres.[4]



B. Berbaik sangka kepada Tuhan

Menurut pandangan riwayat Islami, orang yang suka berburuk sangka kepada sesamanya menunjukkan buruknya diri sendiri. Orang yang buruk, selalu berburuk sangka kepada siapa saja. Imam Ali as. berkata:

“Orang yang buruk, tidak akan pernah berprasangka baik kepada siapapun, karena segala yang ia lihat tak lain adalah cerminan keburukan dirinya sendiri.”[5]

Suka berburuk sangka adalah sebuah penyakit jiwa yang menjadi sebab berbagai macam penyelewengan dan ketergelinciran dalam perjalanan spiritual. Dalam sebuah suratnya yang ditulis kepada Malik Al Asytar, Imam Ali as. berkata:

“Sesungguhnya sifat pelit, pengecut, penakut, adalah sifat-sifat buruk yang berkumpul pada satu sifat: berburuk sangka kepada Allah.”[6]

Berbaik sangka, adalah kunci yang sangat penting untuk kesehatan ruhani. Imam Shadiq as.berkata:

“Sesungguhnya Allah akan berbuat sesuai dengan prasangka hamba-Nya, baik ketika hamba berprasangka baik atau buruk.”[7]

Imam Ali as. juga berkata:

“Prasangka baik adalah (sumber) ketenangan hati dan selamatnya agama.”[8]

“Orang yang tidak mau berbaik sangka, ia akan merasa takut kepada semua orang.”[9]

Prasangka baik kepada Allah swt. bergantung pada kadar iman dan harapan seorang hamba terhadap Tuhannya.[10] Jika kita memperhatikan lebih lanjut, kita akan mendapati bahwa sifat berprasangka baik kepada Tuhan ini tidak akan ditemukan kecuali dalam diri orang yang benar-benar tidak menaruh harapan kepada selain Allah swt.[11] Saat kegembiraan dan kesenangan dianugerahkan oleh Allah swt. kepadanya, ia akan bersyukur, dan jika Allah swt. Menimpakan musibah dan cobaan, ia bersabar.[12]

Dalam doa ‘Arafah Imam Husain as. disebutkan:

“Apa yang dimiliki oleh orang-orang yang kehilangan-Mu? Dan apa yang tidak dimiliki oleh orang-orang yang memiliki-Mu?”[13]

Jadi orang yang selalu berprasangka baik kepada Allah swt. tidak akan pernah berhadapan dengan jalan buntu apa lagi terjerumus dalam stres dan tekanan mental; semakin berat musibah dan cobaan yang ia hadapi, semakin besar pula kesabaran dan ketegarannya.

Apa sebenarnya faktor meyakini agama?

Apa sebenarnya faktor meyakini agama?


Sebagian sosiolog dan psikoanalis materialis Barat dan Timur bersikeras mengatakan bahwa sumber kemunculan agama dan ideologi terhadap ma’rifatullah berasal dari rasa takut dan kejahilan atau faktor-faktor lain yang termasuk dalam kategori ini. Pendapat seperti ini dapat disimpulkan dalam empat asumsi mendasar.


a. Asumsi Kejahilan

Salah seorang sosiolog ternama mengatakan, “Meskipun ilmu dan sains telah berhasil menyingkap pelbagai misterius, namun betapa yang telah tersingkap itu masih kabur di balik tirai ilmu, dan keperluan untuk memahami hal-hal misterius ini telah menyebabkan kemunculan agama.”[1]

Salah seorang filsuf materialis menambahkan bahwa tatkala manusia menatap kejadian-kejadian sejarah, dengan alasan yang sangat jelas mereka membayangkan bahwa ilmu (baca: sains) dan agama adalah dua musuh bebuyutan yang tidak dapat berdamai. Sebab, tatkala seseorang meyakini hukum kausalitas, pada detik yang sama ia tidak dapat memberikan peluang kepada akalnya untuk membayangkan bahwa barangkali terjadi dalam lintasan peristiwa-peristiwa yang menciptakan rintangan dan kendala atas terjadinya sebuah peristiwa.[2]

Sederhananya, mereka hendak mengklaim bahwa ketidaktahuan manusia terhadap sebab-sebab alami telah menyebabkannya berpikir akan adanya kekuatan di luar alam yang menciptakan dan mengatur semesta raya ini. Dengan demikian, tidak terungkapnya faktor dan sebab-sebab alami ini menjadi alasan baginya untuk meyakini keberadaan Tuhan dan agama.

Kesalahan mendasar para penggagas pendapat ini akan terlihat jelas melalui poin-poin berikut ini:

Pertama, mereka membayangkan bahwa beriman kepada keberadaan Tuhan berarti mengingkari hukum kausalitas. Dan kita berlaku sebagai seorang hakim; apakah kita harus menerima sebab-sebab alami tersebut atau menerima keberadaan Tuhan?

Padahal dalam filsafat Islam, meyakini hukum kausalitas dan menyingkap sebab-sebab alami merupakan salah satu jalan yang terbaik untuk dapat mengenal Tuhan.

Kita tidak pernah mengkaji Tuhan di antara ketakberaturan dan kejadian-kejadian yang tak jelas. Akan tetapi, kita menemukan-Nya di antara keteraturan-keteraturan alam semesta. Karena, adanya keteraturan ini merupakan penanda jelas atas wujud satu Sumber Awal bagi alam semesta dan wujud satu Kekuatan yang mengaturnya.

Kedua, mengapa mereka lalai bahwa sesungguhnya manusia semenjak dahulu hingga hari ini melihat adanya sistem yang khas yang berlaku atas jagad raya ini. Menafsirkan sistem ini dengan sebab-sebab irasional tidak mungkin dapat diterima. Dan mereka menganggap keutuhan sistem jagad raya ini sebagai pertanda wujud Tuhan. Akan tetapi, pada masa lalu, sistem ini tidak banyak dikenal orang. Dan semakin maju ilmu-pengetahuan manusia, semakin ia dapat menyingkap seluk-beluk sistem jagad raya ini. Dengan demikian, ilmu dan kemahakuasaan Sumber Awal bagi keberadaan semesta ini akan semakin gamblang .

Atas dasar ini, kita yakin bahwa iman kepada keberadaan Tuhan dan agama relevan dengan kemajuan ilmu dan pengetahuan. Dan setiap penemuan baru akan rahasia dan aturan­aturan jagad raya ini merupakan ‘langkah baru untuk pengenalan yang semakin cermat terhadap Tuhan. Apa yang dapat kita lakukan hari ini dalam rangka mengenal Tuhan tentu tidak pernah dikenal oleh manusia jaman dahulu, lantaran mereka tidak menikmati kemajuan ilmu pengetahuan.



b. Asumsi Rasa Takut

Will Durant, seorang sejarawan ternama Barat, di dalam buku sejarahnya, ketika membahas “Sumber-sumber Agama”, menukil pendapat Luctrius, seorang filsuf Romawi, bahwa rasa takut adalah ibu para dewa! Dan bagian rasa takut yang paling penting ialah rasa takut dari kematian. Atas dasar ini, manusia pertama tidak dapat meyakini bahwa kematian adalah satu fenomena alam. Oleh karena itu, mereka senantiasa menganggap bahwa sebab metafisislah yang menjadi penyebab kematian itu.[3]

Senada dengan teori di atas, B. Russel berkata, “Aku berasumsi bahwa sumber agama -sebelum segala sesuatunya- ialah rasa takut. Rasa takut bersumber dari musibah-musibah alam, dari peperangan dan sebagainya. Rasa takut dari pekerjaan-pekerjaan salah yang dilakukan manusia ketika syahwat mendominasi.”[4]

Kekeliruan asumsi ini akan tampak jelas bila para pendukung asumsi ini sepakat bahwa akar keyakinan kepada Tuhan dan agama tidak memiliki dasar metafisis. Dan tentu saja, harus ditemukan sebuah faktor di alam semesta ini. Sebuah faktor yang akhirnya kembali kepada prasangka dan khayalan belaka. Oleh karena itu, mereka senantiasa melihatnya dalam kerangka cabang dan melupakan kerangka aslinya.

Benar bahwa iman kepada Tuhan memberikan kekuatan spiritual dan ketenangan kepada manusia. Benar bahwa manusia akan bersikap prawira dalam menghadapi kematian dan berbagai perrstrwa pelik yang dialaminya; terkadang berupa sikap pengorbanan. Akan tetapi, mengapa kita lupakan faktor-faktor yang kerap hadir secara telanjang di hadapan mata manusia, yakni sistem semesta yang berlaku atas bumi dan langit ini, kehidupan flora dan fauna, dan keberadaan manusia?

Dengan kata lain, meskipun manusia tidak memiliki ilmu anatomi dan fisiologi atau semisalnya, seketika mencermati struktur mata, telinga, hati, tangan dan kakinya, ia akan melihatnya sebagai sebuah bangunan yang menakjubkan dan kokoh. Bangunan kokoh dan menakjubkan ini niscaya tidak dapat dimengerti bila bersumber dari gejala-gejala aksidental dan faktor­faktor yang tidak masuk akal. Sekuntum bunga, seekor lebah, matahari dan bulan dan alurnya yang tertata apik serta fenomena­fenomena semesta lainnya merupakan contoh gamblang dari kenyataan itu.

kenyataan ini senantiasa hadir di hadapan manusia semenjak dulu hingga kini dan ia merupakan faktor utama adanya iman kepada Tuhan. Lantaran melalaikan realitas nyata ini, akhirnya mereka mencari-cari faktor iman kepada Tuhan dan agama, lalu menyimpulkan bahwa semua itu disebabkan oleh rasa takut dan kedunguan manusia. Atribut yang dapat kita lekatkan kepada mereka adalah “dungu” dalam menghadapi realitas telanjang ini dan “takut” terhadap kemajuan ideologi agama, sebab mereka melepaskan jalan utama dan terang ini, menapakkan kaki di jalan yang tak menentu, serta bersandarkan kepada asumsi­-asumsi yang tak berdasar.



c. Asumsi Faktor Ekonomi

Eksponen asumsi ini adalah mereka yang percaya bahwa kekuatan penggerak sejarah adalah alat-alat reproduksi. Mereka yakin bahwa seluruh fenomena sosial, seperti budaya, ilmu, filsafat, politik, bahkan agama muncul sebagai akibat dari perkara ini.

Untuk menghubungkan kemunculan agama dan masalah­masalah ekonomi, mereka mengajukan penafsiran yang aneh. Di antaranya, mereka berasumsi bahwa menurut kaum imperialis dalam lingkungan sosial, dalam rangka mengenyahkan resistensi dan gerakan massif kaum terjajah, kaum imperialis mencandu mereka dan menciptakan agama. kalimat yang terkenal dari Lenin yang tertuang dalam buku “Sosialisme wa Mazhab” (Sosialisme dan Agama) adalah, “Agama di tengah masyarakat merupakan candu.” Dalam kasus ini terdapat sederet ungkapan yang serupa; terulang-­ulang.

Untungnya, penyokong asumsi ini (kaum sosialis) telah memberikan jawaban sendiri yang ternyata kontradiktif. Ketika mereka berhadapan dengan Islam sebagai gerakan sebuah bangsa tertinggal yang dapat menjungkalkan kaum imperialis seperti kesultanan Sasani, kekaisaran Romawi, para Fir’aun Mesir dan kesultanan Yaman dari singgasana kekuasaan mereka, terpaksa mereka mengecualikan Islam pada batasan minimal kasus ini dari fakta sejarah.

Lebih dari itu, tatkala mereka menyaksikan gerakan dan aksi-aksi Islam menentang kaum imperialis, khususnya pada masa kini, dan berhadapan dengan kekuasaan Timur dan Barat, atau resistensi bangsa Palestina atas kekuasaan Zionisme, mereka tidak memiliki jalan lain kecuali meragukan analisa-analisa mereka sendiri. Biarkanlah mereka terjerat dalam pagar-pagar kesulitan, karena tidak mampu melihat terangnya sinar matahari.

Secara umum, dengan memperhatikan sejarah kemarin dan hari ini, khususnya sejarah Islam, akan tampak bahwa kemunculan agama tidak sesuai dengan asumsi mereka. Tidak hanya candu yang menjadi sebab munculnya gerakan-gerakan sosial yang paling perkasa, akan tetapi masalah-masalah ekonomi juga membentuk bagian dari kehidupan manusia. Dan mendefinisikan manusia pada dimensi ekonomi merupakan kesalahan besar dalam mengenal motivasi dan kecendrungan transendental manusia.



d. Asumsi Kebutuhan kepada Etika

Dalam tema agama dan sains, Einstein berujar, “Dengan sedikit hati-hati, akan menjadi maklum bahwa agitasi dan perasaan-perasaan insani menjadi penyebab munculnya agama yang beraneka dan beragam coraknya…” Setelah menyebutkan asumsi takut, ia menambahkan, tipologi manusia sebagai makhluk sosial juga merupakan salah satu faktor munculnya agama. Seseorang melihat orang tuanya. Kerabat, para pemimpin dan orang-orang besar meninggal dunia. Satu demi satu orang-orang di sekelilingnya berlalu. Setelah itu, harapan untuk terbimbing dengan petunjuk, menyukai, mencintai, bersandar dan bergantung adalah landasan yang membentuk keyakinannya kepada Tuhan.”[5] Dengan urutan seperti ini, Einstein beranggapan bahwa penyebab munculnya agama adalah motivasi moral dan motivasi sosial.

Mari kita kembali menelaah pendapat di atas. Orang­orang yang memberikan asumsi akhlak ini keliru dalam memahami efek dan motivasi. Kita mengetahui bahwa setiap efek tidak mengharuskan adanya motivasi. Boleh jadi tatkala menggali sebuah sumur yang dalam kita menemukan hartu karun. Ini adalah efek. Sedangkan penggerak dan motivasi utama kita untuk menggali sumur ialah untuk mendapatkan air, bukan untuk menemukan harta karun.

Oleh karena itu, adalah benar bahwa agama dapat menenangkan keluh dan derita spiritual manusia. Iman kepada Tuhan dapat melepaskan manusia dari kesendirian tatkala harus kehilangan orang-orang terkasih, sahabat tercinta dan orang-orang besar yang dibanggakan. Iman kepada Tuhan dapat memenuhi segala sesuatu yang lepas dari tangannya dan mengisi kekosongan akibat kehilangan yang dideritanya. Akan tetapi, semua ini adalah sebuah efek, bukan sebuah motivasi.

Motivasi utama agama yang tampak paling logis adalah sebagaimana yang disebutkan sebelumnya; semakin manusia mengamati sistem semesta, semakin ia mengenal kedalaman, kerumitan dan keagungan semesta ini. Ia sekali-kali tidak akan menerima begitu saja akan munculnya munculnya sekuntum bunga dengan segala elegansinya, keajaiban strukturnya, atau matahari dengan seluruh sistem sedemikian agung dan kompleksnya, yang lahir dari rahim semesta yang tak berakal dan pelbagai benturan. Dan berangkat dari sini, manusia bergerak kepada Sumber Awal sistem jagad ini.

Tentu saja kasus lain dengan maksud yang sama dapat membantu, sebagaimana telah diisyaratkan sebelumnya.

Dan anehnya, Einstein sendirilah yang telah mengusulkan asumsi ini. Di tempat lain ia mengubah pernyataannya. Ia mengekspresikan, dengan bahasa yang berbeda, keyakinannya yang teguh terhadap penyebab terjadinya fenomena semesta dan imannya kepada Sumber Awal Yang Agung tersebut. Dan hal ini menunjukkan bahwa ia mengingkari ideologi yang bergantung kepada khurafat-khurafat, bukan kepada sebuah tauhid yang tulus dan bersih dari segala bentuk khurafat.

Ia menuturkan, “Sebuah makna real dari keberadaan Tuhan di balik imaginasi-imaginasi yang secuil telah ditemukan oleh mereka.” Kemudian, Einstein dan para ilmuwan besar lainnya menamakan keyakinan mereka sebagai sebuah jenis keyakinan yang disebut “perasaan religius penciptaan” atau “perasaan religius keberadaan”. Dan di tempat lain, disebut sebagai “takjub yang mengairahkan dari sistem ajaib dan akurat jagad raya”.

Dan yang lebih menarik adalah penegasannya, “Iman religius adalah suluh bagi jalan pencarian hidup para cendikiawan. “[6]

Tentu saja, dalam masalah ini banyak pernyataan yang dapat dinukil. Sekiranya kita ingin melepaskan dari kendali pena, pembahasan kita akan keluar dari pembahasan tafsir tematik.

Oleh karena itu, kita kembalikan kepada persoalan utama.

Dan pembahasan ini kita akhiri sampai di sini. Kami ingatkan bahwa untuk mengetahui motivasi atau dorongan munculnya agama seyogyanya terlebih dahulu menelaah penciptaan semesta (alasan logis dan rasional), dan selepas itu mengkaji kekuatan magnetis dalam lubuk hati (motivasi fitri), kemudian mengalihkan perhatian kepada Sumber Awal Yang Agung, sebagaimana yang telah disinggung sebelumnya mengenai anugerah-anugerah-Nya yang nir-batas.[7]

Maksud ketidaksempurnaan akal wanita


Pertanyaan

Apakah yang diungkapkan oleh Imam Ali as tentang tak sempurnanya akal wanita merupakan penghinaan terhadapnya?



Penjelasan

Imam Ali as dalam khutbah ke 80 Nahjul Balaghah berkata: “Sesungguhnya kaum wanita tak sempurna akalnya.” Hadits ini dan hadits-hadits yang mirip dengannya telah menimbulkan pertanyaan di atas di benak kita. Untuk menjawabnya kita akan mulai dengan dua pendahuluan:

Pertama, kita harus mengkaji dalam kondisi apakah hadits tersebut diungkapkan oleh para Imam, baru setelah itu kita akan lebih mudah memahami maksudnya. Sebagaimana dalam tafsir ayat-ayat Qur’an memiliki Asbabun Nuzul, hadits pun juga demikian. Jika kita memahami Asbabun Nuzul maka kita akan lebih mudah memahami maksudnya.

Jika ditelusuri, khutbah ke 80 Imam Ali dalam Nahjul Balaghah itu beliau sampaikan seusai perang Jamal. Sayid Radhi, penyusun Nahjul Balaghah dalam permulaan khutbah tersebut telah mengingatkan kita akan masalah ini. Sebagaimana yang kita ketahui, perang Jamal adalah perang yang dipimpin oleh seorang wanita bernama Aisyah melawan Imam Ali as. Dan perempuan itulah sebab dari segala persengketaan dan percekcokan dalam pemerintahan Imam Ali as. Aisyah dengan emosi kewanitaannya menyulut api perang Jamal, membuat puluhan ribu jiwa melayang, menjadi faktor meletusnya perang Shiffin dan Nahrawan; itu semua hanya karena emosi seorang wanita yang menyimpan permusuhan terhadap Imam Ali as dalam hatinya. Oleh karena itu Imam Ali as berkata: “Para wanita tak sempurna akalnya. Maka janganlah kau turuti semua keinginannya.”[1]

Beliau mencela kaum lelaki yang mengikuti Aisyah dalam perang Jamal seraya berkata: “Kalian adalah tentara seorang wanita dan pengikut hewan (onta yang dinaiki Aisyah).”[2] Dalam penjelasan khutbah ini disebutkan:

“Tak diragukan bahwa khutbah di atas bukanlah satu pernyataan umum yang mencakup seluruh wanita. Karena khutbah ini beliau sampaikan seusai perang Jamal yang dipimpin oleh Aisyah dan memakan banyak korban, maka yang beliau maksud dalam khutbah itu adalah wanita-wanita yang seperti Aisyah. Banyak wanita-wanita yang dijunjung tinggi dalam ajaran kita, seperti Khadijah, Fathimah Azzahra, dan juga seorang wanita pejuang Saudah Hamdaniah yang berkorban demi keadilan. Wanita-wanita seperti itu sangat ditinggikan martabatnya.”[3]

Kedua, Imam Ali as tidak hanya menyebut wanita berakal tak sempurna, bahkan ia juga pernah menyebut beberapa lelaki yang memiliki akal yang tak sempurna pula.

Beliau berkata: “Lelaki yang menyukai dan senang dengan dirinya sendiri adalah lelaki yang tak sempurna akalnya dan lemah.”[4]

Beliau juga pernah berkata: “Lelaki yang kagum atas dirinya sendiri adalah lelaki tolol.”

Ia pernah menyebut lelaki-lelaki Kufah demikian: “Kalian adalah orang-orang yang tidak berakal.”[5]

Beliau pernah juga mencaci penduduk Bashrah dengan berkata: “Akal-akal kalian telah menjadi lemah.”[6]

Oleh karena itu ketidak sempurnaan akal tak terbatas pada wanita saja, namun lelaki terkadang juga demikian. Betapa banyak para wanita yang memiliki akal tinggi dan lelaki yang bodoh. Oleh karena itu hadits-hadits demikian tidak dapat dijadikan keistimewaan atau penghinaan terhadap lelaki dan perempuan.

Dengan penjelasan di atas kita juga dapat menambahkan jawaban yang dapat kita ambil dari Al-Qur’an:



Persamaan dalam penciptaan

Al-Qur’an telah menjelaskan bahwa lelaki dan perempuan diciptakan dari “satu” asal, dan oleh karena itu keduanya sama dan tidak ada keistimewaan apapun bagi salah satu terhadap selainnya. Banyak sekali ayat-ayat yang menjelaskan hal tersebut. Misalnya:

“Dialah Yang menciptakan kamu dari diri yang satu dan dari padanya Dia menciptakan isterinya, agar dia merasa senang kepadanya.” (QS. Al-A’raaf [7]:189)

“Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan dari padanya Allah menciptakan isterinya; dan dari pada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak.” (QS. An-Nisaa’ [4]:1)

“Allah menjadikan bagi kamu isteri-isteri dari jenis kamu sendiri dan menjadikan bagimu dari isteri-isteri kamu itu, anak-anak dan cucu-cucu, dan memberimu rezki dari yang baik-baik.” (QS. An-Nahl [16]:72)

Ayat-ayat di atas menjelaskan bahwa lelaki dan perempuan sama dan tercipta dari satu asal.

Selain itu Al-Qur’an menjadikan lelaki dan perempuan sama-sama sebagai lawan bicaranya tanpa mebeda-bedakan mereka. Allah swt hanya memberikan keistimewaan kepada hambanya karena ketakwaan dan amal saleh. Perhatikan ayat-ayat berikut ini juga:

“Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam.” (QS. Al-Israa’ [17]:70)

“Dia telah menciptakan manusia dari mani, tiba-tiba ia menjadi pembantah yang nyata.” (QS. An-Nahl [16]:4)

“Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik” (QS. An-Nahl [16]:97)

“Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.” Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya…” (QS. An-Nuur [24]:30-31)

Banyak sekali ayat-ayat yang menjelaskan kewajiban lelaki dan perempuan secara bersama-sama tanpa membeda-bedakan mereka.



Bermacam-macam makna akal dalam riwayat

Imam Ali as berkata: “Akal ada dua: akal alami yang dimiliki seseorang dan akal yang muncul karena pengalaman.”[7]

Akal alami adalah sesuatu yang membedakan manusia dari hewan-hewan. Adapun akal yang satunya adalah akal pemikiran yang muncul karena latihan, pengalaman, percobaan dan lain sebagainya.

Saat beliau berkata wanita lemah akalnya, bukan berarti akal alaminya yang lemah, namun maksudnya adalah para wanita lebih sedikit pengalamannya.

Akal yang muncul karena pengalaman tidak ada kaitannya dengan akal alami dan akal sempurna manusia. Akal alami lelaki dan perempuan sama tak ada bedanya, hanya saja karena perempuan lebih sedikit berpengalaman maka akalnya yang muncul dari pengalaman lebih sedikit daripada lelaki yang banyak pengalaman. Hal itu bukanlah aib bagi perempuan, karena berkaitan dengan perannya masing-masing.

Imam Ali as pernah menyatakan bahwa perempuan yang memiliki banyak pengalaman layak untuk dimintai pertimbangan dan bermusyawarah dengannya. Beliau berkata: “Janganlah kalian bermusyawarah dengan wanita, kecuali jika engkau tahu kesempurnaan akalnya.”[8]

Imam Ali as juga pernah berkata: “Akal adalah suatu daya yang akan bertambah dengan bertambahnya ilmu dan pengalaman.”[9]

Memag lelaki dan perempuan secara esensial tidak berbeda, namun ada faktor-faktor eksternal yang membedakan mereka, seperti jenis kelamin, perbedaan emosional, peran yang dijalankan, pengalaman-pengalaman, dan lain sebagainya.

Para psikolog menyatakan: “Para wanita memiliki emosi dan sensitifitas perasaan yang lebih tinggi. Mereka lebih bisa memahami seni, keindahan, kecantikan, dan lain sebagainya dari pada lelaki. Namun perbedaan-perbedaan itu bukanlah kekurangan dan kelebihan satu jenis terhadap jenis lainnya. Karena memang secara alami demikian dan lelaki dan perempuan dapat saling menyempurnakan dengan adanya perbedaan-perbedaan tersebut.”[10]



Kesimpulan

Berdasarkan penjelasan di atas, jelaslah bahwa lelaki dan perempuan secara esensial tidak ada bedanya. Perbedaan-perbedaan yang ada antara lelaki dan perempuan bukanlah aib dan kekurangan, namun dengan adanya perbedaan itu mereka dapat saling menyempurnakan.



Referensi untuk mengkaji lebih jauh:

1. Muhammad Ja’far Imami, Muhammad Ridha Ashtiyani, Tarjome e Guyo va Sharh e Feshorde bar Nahjul Balaghah, jil. 1, hal. 39 & 389.

2. Murtadha Muthahari, Nezam e Hoquq e Zan dar Eslam, hal. 208.



Hadits akhir:

Rasulullah saw bersabda: “Jangan kalian beda-bedakan anak-anak kalian dalam mengasihi. Jika seandainya aku boleh membedakan, aku lebih memuliakan anak-anak perempuan.”[11]

Iblis Lebih pandai daripada Khalifah ?



Abul Hudzail Allaf adalah seorang alim Suni yang sangat terkenal di abad ke-3. Ia hidup di Bashrah, dan datang ke Baghdad pada tahun 230 H., lalu meninggal dunia di usia 100 tahun di Baghdad, tahun 235 H.

Pada suatu hari, Ali bin Maitsam bertanya kepada Abul Hudzail: “Bukankah Iblis selalu mendorong manusia untuk berbuat buruk dan melarangnya berbuat baik?”

Abul Hudzail menjawab, “Ya, memang demikian.”

Ali bin Maitsam: “Apa bisa Iblis mencegah manusia dari perbuatan baik yang tidak ia ketahui dan mendorongnya kepada perbuatan buruk yang juga tidak ia ketahui?”

Abul Hudzail: “Iblis pasti mengetahuinya.”

Ali bin Maitsam: “Jadi Iblis mengetahui segala kebaikan dan keburukan?”

Abul Hudzail: “Ya, Iblis tahu.”

Ali bin Maitsam: “Katakan padaku, siapa saja imammu setelah nabi? Apakah semuanya mengetahui segala kebaikan dan keburukan atau tidak?”

Abul Hudzail: “Mereka tidak mengetahui semuanya.”

Ali bin Maitsam: “Kalau begitu iblis lebih pintar dari imam-imammu.”

Akhirnya Abul Hudzail ditinggalkan begitu saja dan ia tidak berkata apa-apa.[1]